Minggu, 26 April 2009

Lestarikan Bumiku Lestarikan Alamku

Mengapa Tanahku rawan kini….
Bukit – Bukitpun Telanjang Berdiri
Pohon dan Rumput-rumput enggan bersemi kembali
Sampai kapan bumiku begini
Lestari alamku…
Lestari Bumiku…
(Gombloh, Lestari Alamku)

A. Global Warming?
enggalan lagu di atas adalah sebuah ungkapan isi hati anak manusia yang melihat keadaan bumi seakan–akan menjerit dan menangis dengan ditandai banyaknya terjadi bencana alam, seperti Banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, dan lain-lain. Terlebih lagi dengan adanya isu Global Warming (Pemanasan Global) yang saat ini banyak digembor-gemborkan para aktivis lingkungan.


Hari Lingkungan Hidup jatuh setiap Tanggal 5 Juni dan pada saat itu negara-negara seluruh dunia umumnya memperingatI sebagai Hari Lingkungan Hidup sedunia. Pemanasan global (global warming) telah menjadi sorotan utama berbagai masyarakat dunia, terutama negara yang mengalami industrialisasi dan pola konsumsi tinggi (gaya hidup konsumtif). Tidak banyak memang yang memahami dan peduli pada isu perubahan iklim. Sebab banyak yang mengatakan, ‘memang dampak lingkungan itu biasanya terjadi secara akumulatif’.

Pada titik inilah masalah lingkungan sering dianggap tidak penting oleh banyak kalangan, utamanya penerima mandat kekuasaan dalam membuat kebijakan. Saat ini Negara-negara di dunia yang tergabung dalam PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) atau UNO (United Nation Organitation) sedang gencar-gencarnya membahas ancaman maupun dampak daripada Global Warming. Sebagai tindak lanjut dari pertemuan Kyoto di Jepang yang dihadiri oleh 160 negara pada tahun 1997 dan menghasilkan Protocol Kyoto (Kyoto’s Protocol) maka pada tanggal 3 Desember s/d 14 Desember di gelar Climate Change Conference (Konferensi Perubahan Iklim) di Nusa Dua Bali.


Pemanasan global (Global Warming )adalah kejadian meningkatnya temperature rata-rata lapisan udara (Atmosphere), laut dan daratan bumi juga bisa diartikan sebagai menghangatnya permukaan bumi selama beberapa kurun waktu tertentu. Sebenarnya ini adalah gejala alam yang normal karena apabila tidak mendapatkan pemanasan maka suhu di bumi akan menjadi dingin dan membeku seperti ketika zaman es yang pernah terjadi ribuan tahun silam. Pemanasan pada permukaan bumi dikenal dengan istilah “Efek Rumah Kaca” atau “Greenhouse Effect”.

Proses ini berawal dari sinar matahari yang menembus lapisan udara (Atmosphere) dan memanasi permukaan bumi. Permukaan bumi yang menjadi panas menghangatkan udara yang berada tepat di atasnya. Karena menjadi ringan udara panas tersebut naik dan posisinya di gantikan oleh udara sejuk, sebagaian dari udara panas yang naik ke atas ditahan dan dipantulkan kembali oleh lapisan gas atmosfer bumi yang salah satunya adalah gas karbondioksida. Udara panas yang dipantulkan tersebut berfungsi menjaga temperature bumi supaya tidak beku.


Proses pemantulan udara panas untuk menghangatkan bumi inilah yang disebut dengan Efek Rumah Kaca atau “Greenhouse Effect”.
Namun oleh para ahli proses ini adalah proses alam yang normal dan menjadi tidak normal atau tidak sehat sejak manusia memasuki proses industri. Pada masa ini manusia mulai melakukan pembakaran batu bara, minyak dan gas bumi untuk menghasilkan bahan bakar dan listrik. Proses pembakaran energi dari bumi ini ternyata menghasilkan gas buangan yang berupa karbondioksida, otomatis kadar lapisan gas rumah kaca yang menahan dan memantulkan kemba manasan ini bahaya besar lainnya akan mucul, atau bahkan sudah terjadi dan sedang kita rasakan saat ini. Efek pertama yang terjadi adalah tingginya temperature udara.


Di Indonesia pada bulan-bulan kemaren sudah merasakan bagaimana tersiksanya hidup ketika suhu menjadi luar biasa panas. Korban yang akibat “Kepanasan” mencapai ratusan, belum terhitung yang harus mengalami rawat inap karena dehidrasi. Sungguh bukan masalah yang sepele. Temperature yang terus meningkat dapat melelehkan banyak salju di kedua kutub buni dan gunung-gunung tertinggi dunia.


Hasilnya adalan volume air yang mengalir kelautan akan semakin tinggi yang otomatis menaikkan permukaan laut. Pemanasan global suhu udara meningkat melelehnya salju dunia serta naiknya permukaan laut dan pada akhirnya akan menyebabkan perubahan iklim (Climate Change) kita sekarang ,merasakan datangnya musim kemarau yang lebih lama dari seharusnya. Akibatnya air tanah menjadi langka karena belum mendapat pasokan dari hujan.


Menurut temuan Intergovermental Panel and Climate Change (IPCC). Sebuah lembaga panel internasional yang beranggotakan lebih dari 100 negara di seluruh dunia. Sebuah lembaga dibawah PBB, tetapi kuasanya melebihi PBB. Menyatakan pada tahun 2005 terjadi peningkatan suhu di dunia 0,6-0,70 sedangkan di Asia lebih tinggi, yaitu 10. selanjutnya adalah ketersediaan air di negeri-negeri tropis berkurang 10-30 persen dan melelehnya Gleser (gunung es) di Himalaya dan Kutub Selatan.

Secara general yang juga dirasakan oleh seluruh dunia saat ini adalah makin panjangnya musim panas dan makin pendeknya musim hujan, selain itu makin maraknya badai dan banjir di kota-kota besar (el Nino) di seluruh dunia. Serta meningkatnya cuaca secara ekstrem, yang tentunya sangat dirasakan di negara-negara tropis. Jika ini kita kaitkan dengan wilayah Indonesia tentu sangat terasa, begitu juga dengan kota-kota yang dulunya dikenal sejuk dan dingin makin hari makin panas saja. Contohnya di Jawa Timur, bisa kita rasakan adalah Kota Malang, Kota Batu, Kawasan Prigen Pasuruan di Lereng Gunung Welirang dan sekitarnya, juga kawasan kaki Gunung Semeru. Atau kota-kota lain seperti Bogor Jawa Barat, Ruteng Nusa Tenggara, adalah daerah yang dulunya dikenal dingin tetapi sekarang tidak lagi. Meningkatnya suhu ini, ternyata telah menimbulkan makin banyaknya wabah penyakit endemik “lama dan baru” yang merata dan terus bermunculan; seperti leptospirosis, demam berdarah, diare, malaria. Padahal penyakit-penyakit seperti malaria, demam berdarah dan diare adalah penyakit lama yang seharusnya sudah lewat dan mampu ditangani dan kini telah mengakibatkan ribuan orang terinfeksi dan meninggal. Selain itu, ratusan desa di pesisir Jatim terancam tenggelam akibat naiknya permukaan air laut, indikatornya serasa makin dekat saja jika kita tengok naiknya gelombang pasang di minggu ketiga bulan Mei 2007 kemarin. Mulai dari Pantai Kenjeran, Pantai Popoh Tulungagung, Ngeliyep Malang dan pantai lain di pulau-pulau di Indonesia.

B. Apakah Dampaknya
a. Pertanian
Umumnya orang-orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, namun apa dampaknya bagi para petani yang banyak memberikan kontribusi bagi sector pangan yang ada di Indonesia? Semua petani mengeluh karena musim tanam mereka sudah tidak seperti dulu lagi, prediksi musim tanam mereka selalu meleset sebagai contoh hari ini musim penghujan dan tidak menutup kemungkinan hari esok hujan tidak akan turun dalam kurun waktu yang sangat lama sehingga tanaman yang di tanam petani pada saat itu tidak mendapatkan air yang cukup jadi hasil panen mereka merosot karena tidak sesuai dengan target para petanipun merugi karena penen mereka merosot jumlah panen berkurang serta stok bahan panganpun sedikit dan akhirnya berimbas pada naiknya harga. Belum lagi para petani yang tanamannya terserang oleh hama dan serangga yang saat ini marak dialami oleh petani.


b. Hewan dan tumbuhan
Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.


c. Kesehatan
Cuaca yang hangat akan berakibat terhadap mudahnya penyebaran virus penyakit dari daerah yang endemik ke daerah yang non endemik wabah penyakit tertentu, jadi tidak menetup kemungkinan bagi daerah yang mendapatkan kategori sehat dan bebas terhadap penyakit tertentu suatu saat akan menjadi daerah yang tidak sehat lagi dan terdapat banyak daerah-daerah yang rawan terhadap penyakit tertentu, dalam sebuah media masa para ilmuwan memprediksi bahwa lebih banyak orang yang terkena penyakit atau meninggal karena stress panas. Wabah penyakit yang biasa ditemukan di daerah tropis, seperti penyakit yang diakibatkan nyamuk dan hewan pembawa penyakit lainnya, akan semakin meluas karena mereka dapat berpindah ke daerah yang sebelumnya terlalu dingin bagi mereka. Saat ini, 45 persen penduduk dunia tinggal di daerah di mana mereka dapat tergigit oleh nyamuk pembawa parasit malaria persentase itu akan meningkat menjadi 60 persen jika temperature meningkat. Penyakit-penyakit tropis lainnya juga dapat menyebar seperti malaria, demam dengue, demam kuning, dan encepalitis Para ilmuwan juga memprediksi meningkatnya insiden alergi dan penyakit pernafasan karena udara yang lebih hangat akan memperbanyak polutan dan gas Karbondioksida.



C. Bagaimana Mengendalikan Pemanasan Global
Karena pemakaian bahan bakar fosil yang banyak memberikan kontribusi terhadap terbentuknya gas karbondioksida yang juga akan menimbulkan lebih banyaknya panas yang di pantulkan oleh rumah kaca Langkah-langkah yang dilakukan atau yang sedang didiskusikan saat ini adalah tidak ada yang dapat mencegah pemanasan global di masa depan. Tantangan yang ada saat ini adalah mengatasi efek yang timbul sambil melakukan langkah-langkah untuk mencegah semakin berubahnya iklim di masa depan. Kerusakan yang parah dapat diatasi dengan berbagai cara.
Daerah pantai dapat dilindungi dengan dinding dan penghalang untuk mencegah masuknya air laut juga dengan diadakanya penanaman pohon bakau atau mangrove di sekitar bibir pantai untuk mencegah tejadinya abrasi yang saat ini telah banyak dirasakan disekitar dearah pantai Indonesia termasuk. Cara lainnya, pemerintah dapat membantu populasi di pantai untuk pindah ke daerah yang lebih tinggi. Misalnya dengan cara menyelamatkan tumbuhan dan hewan dengan tetap menjaga koridor (jalur) habitatnya, mengosongkan tanah yang belum dibangun dari selatan ke utara. Spesies-spesies dapat secara perlahan-lahan berpindah sepanjang koridor ini untuk menuju ke habitat yang lebih dingin.


Cara yang paling mudah untuk menghilangkan karbondioksida di udara adalah dengan memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih banyak lagi. Pohon, terutama yang muda dan cepat pertumbuhannya, menyerap karbondioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam kayunya. Di seluruh dunia, tingkat perambahan hutan telah mencapai level yang mengkhawatirkan. Di banyak area, tanaman yang tumbuh kembali sedikit sekali karena tanah kehilangan kesuburannya ketika diubah untuk kegunaan yang lain, seperti untuk lahan pertanian atau pembangunan rumah tinggal. Langkah untuk mengatasi hal ini adalah dengan penghutanan kembali yang berperan dalam mengurangi semakin bertambahnya gas rumah kaca.


Jadi pemanasan global yang terjadi karena perbuatan manusia memang memiliki efek negative yang tidak bisa dipandang sepele. Dan kita pun, suka tidak suka tercatat sebagai salah satu pelakunya. Cobalah mulai sekarang kita ubah kebiasaaan yang bisa mengurangi kadar gas karbondioksida supaya tidak melebihi ambang batas. Caranya? Cukup memakai listrik seperlunya, memilih alat rumah tangga atau elektronik yang hemat energi, dan kalau bisa menanam pohon untuk menyerap gas karbondioksida yang ada di udara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar